menu

Cari Blog Ini

Senin, 21 November 2016

SHOLAT SUNNAT MUAKAD DAN GHAIRU MUAKAD


Shalat sunnah muakkad dan ghairu muakkad

A. SHALAT SUNNAH MUAKAD
1. Pengertian shalat muakad
Shalat sunnah muakad adalah shalat sunnah yang dikuatkan (selalu dikerjakan Rasulullah dan jarang ditinggalkannya).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam shalat sunnah muakad:
1)      Tidak didahului adzan dan iqomah
2)      Dileksanakan secara munfarid (sendirian) kecuali shalat sunnah idain
3)      Dimulai dengan niat sesuai dengan jenis shalatnya
4)      Dilaksanakan dengan dua rakaat salam
5)      Tempat melaksanakan shalat sunnah sebaiknya berbeda dengan shalat wajib
6)      Bacaan sunnah ada yang dibaca sirri (berbisik): shalat dhuha dan shalat sunnah rawatib dan ada yang dibaca jahr (keras): shalat sunnah idain. (Ibrahim, 2008: 120)

2. Macam-macam shalat sunnah muakad
a) Shalat sunnah rawatib
Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang menyertai shalat fardhu baik dikerjakan sebelum shalat fardhu ataupun sesudahnya. Yang sering disebut shalat qobliyah (sebelum), shalat ba’diyah (sesudah). (Amir Abyan, 2008: 108)

Yang termasuk shalat sunnah rawatib, Menurut kesepakatan semua ulama
1) Dua rakaat sebelum shalat subuh
Dalam sebuah hadits, diriwayatkan oleh Nabi, sebagai berikut:
ﻋﻦﻋﺎﺌﺸﻪ ﻠﻡ ﻳﻜﻦ ﺍﻠﻧﺑﻲ ﺺ.ﻡ.ﻋﻟﻰ ﺸﻴﺊ ﻤﻥ ﺍﻠﻧﻮﺍ ﻓﻞ ﺃﺸﺪ ﻤﻧﻪ ﺗﻌﺎﻫﺪﺍﻋﻠﻰ ﺮﻜﻌﺘﻰ ﺍﻠﻓﺠﺮ .ﺮﻮﺍﻩﺍﻠﺑﺧﺍﺮﻯ
Artinya: dari Aisyah r.a.. “tidak ada shalat sunnah yang dipentingkan oleh Nabi SAW selain dua rakaat sebelum subuh (shalat fajar).” (H.R. Al-Bukhari: 1093)
2) Dua rakaat sebelum shalat dzuhur
3) Dua rakaat sesudah shalat dzuhur
4) Dua rakaat sesudah shalat maghrib
5) Dua rakaat sesudah shalat isya’ (Ibrahim, 2008: 121)

Keutamaan shalat sunnah rawatib:
a. Keutamaan shalat sunnah sebelum subuh
Dijelaskan oleh hadits sebagai berikut:
Yang artinya: “dari Aisyah r.a. dari Nabi SAW. Beliau telah bersabda, dua rakaat sebelum fajar itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim)
b. Keutamaan shalat sunnah dzuhur baik qabliyah maupun ba’diyah dan shalat sunnah sesudah shalat maghrib dan sesudah isya’
Dijelaskan dalam hadits, yang artinya sebagai berikut:
siapa yang shalat sehari semalam dua belas rakaat, maka dibangunlah bagimya sebuah rumah di surga, yaitu 4 rakaat sebelum dzuhur, 2 rakaat sesudah dzuhur, 2 rakaat sesudah maghrib, 2 rakaat sesudah isya’ dan 2 rakaat sebelum subuh.” (HR. Turmudzi). (Amir Abyan, 2008: 109)

b) Shalat sunnah malam
Shalat sunnah malam adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari setelah shalat isya’ sampai terlihat fajar. 

                             Macam-macam shalat sunnah malam
1. Shalat witir
Shalat witir adalah shalat sunnah yang dilaksanakan pada malam hari setelah shalat isya’ hingga terbitnya fajar dengan jumlah rakaat yang ganjil, paling sedikit satu rakaat dan paling banyak sebelas rakaat. Dan Shalat witir sebagai penutup dari seluruh shalat malam.
Sholat witir menurut Syafi'i, Hambali dan Maliki hukumnya adalah sunnah muakkadah sementara menurut Hanafi hukumnya wajib.
Dasar Pengambilan Khulashotul Kalam halaman 112
صلاةُ الوِتْرِ وَاجِبَةٌ عِنْدَ أبِى حَنِيْفَةَ وَسُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ عِنْدَ غَيْرِهِ
Cara pelaksanaan shalat witir
a. Tiap-tiap dua rakaat salam dan yang terakhir boleh satu atau tiga rakaat salam.
b. Shalat witir dilaksanakan tiga rakaat maka tidak tidak usah membaca tasyahud awal
Madzhab
Jumlah
Keterangan
Maliki
3 rakaat
dipisah dengan satu salam
Hanafi
3 rakaat
Tanpa dipisah dengan salam
Syafi’i
1 rakaat
-
(Abdurrahman, 2006: 414)

2. Shalat Tahajjud
Shalat tahajjud adalah shalat sunnah yang dilaksanakan pada malam hari. Waktu yang paling baik ialah dilaksanakan sesudah bangun tidur setelah shalat isya’ sepertiga malam yang terakhir. Jumlah bilangan rakaatnya paling sedikit dua rakaat dan paling banyak tidak terbatas. Allah berfirman: surat al-isra’: 79
z`ÏBur È@ø‹©9$# ô‰¤fygtFsù ¾ÏmÎ/ \'s#Ïù$tR y7©9 #Ó bry7sWyèö7 y7•/u‘ $YB$s)tB#YŠqßJøt¤C ÇÐÒÈ
dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.” 

3. Shalat tarawih
Shalat sunnah tarawih adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari, pada bulan ramadhan. Waktunya setelah melaksanakan shalat isya’ sampai menjelang subuh.
Bilangan rakaat shalat tarawih
Madzhab
Bilangan
Alasan
Syafi’I
20
Berdasarkan yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khatab dalam rangka mensyiarkan malam ramadhan
Hanafi
20
Hambali
20
Maliki
39
Melihat penduduk Madinah melakukan shalat tarawih 39 rakaat disertai shalat witir
hadits Aisyah
11
melihat Nabi melakukan shalat malam pada bulan ramadhan maupun selain ramadhan hanya sebanyak 11 rakaat
Perbedaan pendapat tentang hal initidak perlu menjadi bahan pertentangan karena tarawih itu merupakan bagian dari shalat malam yang jumlah rakaatnya tidak terbatas. Semua itu untuk menghidupkan malam ramadhan yang banyak berkahnya. Jika shalat tarawih dilaksanakan empat rakaat maka tidak diselingi dengan tasyahud awal.
c) Shalat Sunnah Idain
Kata idain berarti dua hari raya, yaitu hari raya idul fitri dan hari raya idul adha. Shalat idain adalah shalat sunnah yang dilakukan karena datangnya hari raya idul fitri atau idul adha. Shalat idul idul fitri di laksanakan pada tanggal 1 syawal, sedangkan shalat idul adha di laksanakan pada tanggal 10 dzulhijjah. Shalat idain disyariatkan pada tahun pertama hijriyah.
                   Para ulama berselisih pendapat tentang hukum shalat idul fitri dan idul adha, yaitu:
Madzhab
Hukum
Hanafi
Fardhu ain dengan syarat-syarat yang ada pada shalat jum’at tetapi jika tidak dipenuhi kewajiban tersebut maka akan menjadi gugur.
Maliki
Sunnah muakkad
Syafi’i
Sunnah muakkad
Hambali
Fardhu kifayah
Waktu pelaksanaan shalat ied menurut imam madzhab, yaitu:
Madzhab
Waktu shalat
Hambali
Sejak naiknya matahari setombak sampai waktu zawal
Syafi’i
Sejak terbitnya matahari sampai tergelincirnya matahari (waktu zawal)
Imamiyah
Sejak terbitnya matahari sampai tergelincirnya matahari (waktu zawal)
                   Tata cara shalat ied menurut madzab-madzhab, sebagai berikut:
Madzhab
Tata cara
Hanafi
Niat, mengucapkan takbiratul ihram, mengucapkan takbir 3 kali diselingi dengan diam sejenak sekadar bacaan 3 kali atau juga boleh mengucapkanﺴﺑﺤﺎﻦﺍﷲﻮﺍﻠﺤﻤﺪﺍﷲﻮﻻﺍﻟﻪﺍﻻﺍﷲﻮﺍﷲﺍﻛﺑﺮ
Kemudian ﺍﻋﻮﺫﺑﺎﺍﷲﻤﻦﺍﻟﺷﻴﻄﺎﻦﺍﻟﺮﺟﻴﻢ acabmem setelah itu membaca alfatihah dan surat, lalu ruku’ dan sujud. Rakaat kedua, membaca alfatihah, surat, takbir 3 kali, ruku’, sujud, menyempurnakan shalat hingga selesai.
Syafi’i
Mengucapkan takbiratul ihram, membaca doa iftihah, kemudian takbir tujuh kali, tiap-tiap 2 takbir di selingi ﺴﺑﺤﺎﻦﺍﷲﻮﺍﻠﺤﻤﺪﺍﷲﻮﻻﺍﻟﻪﺍﻻﺍﷲﻮﺍﷲﺍﻛﺑﺮSecara perlahan, kemudian membacaﺍﻋﻮﺫﺑﺎﺍﷲﻤﻦﺍﻟﺷﻴﻄﺎﻦﺍﻟﺮﺟﻴﻢ kemudian membaca alfatihah, surat Qaf, ruku’, sujud. Rakaat kedua, membaca takbir yang kemudian di tambah 5 kali takbir lagi, diantara 2 takbir diselingi membacaﺴﺑﺤﺎﻦﺍﷲﻮﺍﻠﺤﻤﺪﺍﷲﻮﻻﺍﻟﻪﺍﻻﺍﷲﻮﺍﷲﺍﻛﺑﺮKemudian membaca alfatihah dan surat iqtarobat kemudian menyempurnakan hingga selesai.
Hambali
Membaca doa iftitah, membaca takbir 6 kali, yang diantara 2 takbir itu membaca:
ﺍﷲﺍﻜﺑﺮﻜﺑﻴﺮﺍﻮﺍﻟﺤﻤﺪﷲﻜﺛﻴﺮﺍﻮﺴﺑﺤﺎﻦﺍﷲﺑﻜﺮﺓﺃﺻﻴﻼﻮﺻﻠﻰﺍﷲﻋﻠﻰﻣﺤﻣﺩﻮﺍﻠﻪﻮﺴﻠﻢﺘﺴﻠﻴﻣﺎ
kemudian membacaﺍﻋﻮﺫﺑﺎﺍﷲﻤﻦﺍﻟﺷﻴﻄﺎﻦﺍﻟﺮﺟﻴﻢ dan basmalah, lalu membaca al-fatihah dan surat al-a’la. Rakaat kedua, membaca takbir 5 kali dan tiap-tiap dua takbir diselingi dengan ucapan yang sama pada rakaat pertama. Kemudian membaca alfatihah dan surat al-ghasyiyah, lalu ruku’ sampai selesai.
Maliki
Mengucapkan takbiratul ihram, takbir 6 kali, lalu membaca al-fatihah dan surat al-a’la, ruku’, dan sujud. Bangkit Rakaat kedua sambil membaca takbir, ditambah dengan 5 takbir sesudahnya, lalu membaca al-fatihah dan surat as-syamsi kemudian shala hingga selesai. (Jawad Mughniyah, 2010:126-127)

Hal-hal yang di sunnahkan dalam shalat ied
a. Membaca takbir.
b. Mandi, berhias, memakai pakaian yang paling bagus, dan memakai wangi-wangian.
c. Makan sebelum shalat idul fitri, sedangkan untuk idul adha makannya sesudah pulang dari shalat ied.
d. Berangkat menuju ke tempat shalat ied dan pulangnya dengan jalan yang berbeda.
Ø Hal-hal yang di sunnahkan pada waktu shalat ied
a. Dilaksanakan secara berjamaah
b. Takbir tujuh kali setelah membaca do’a iftitah sebelum membaca surat alfatihah pada rakaat pertama. Pada rakaat kedua takbir lima rakaat sebelum membaca surat al-fatihah selain dari takbir pada waktu berdiri.
c. Mengangkat tangan setiap kali takbir
d. Membaca tasbih di antara beberapa takbir
e. Membaca surat Al-A’la setelah surat Al-fatihah pada rakaat pertama dan surat Al-ghasyiyah.(Amir Abyan, 2008: 115-116 )

d) Shalat Tahiyatul Masjid
Tahiyatul masjid berarti penghormatan masjid, shalat tahiyatul masjid berarti shalat yang dikerjakan untuk menghormati masjid. Masjid adalah tempat manusia bersemabah sujud kepada Allah, semua kegiatan dimasjid menggunakan nama Allah makanya masjid disebut Baitullah. Demikian mulyanya sehinnga islam mensyariatkan shalat tahiyatul masjid, Rasulullah bersabda:
ﺇﺬﺍﺟﺎﺀﺍﺤﺪﻜﻢﺍﻠﻤﺴﺟﺪﻓﻠﻴﺻﻞﺴﺟﺪﺗﻳﻥﻣﻥﻗﺑﻞﺍﻥﻴﺟﻟﺱ. ﺭﻮﺍﻩﺃﺑﻮﺪ ﺍﻮﺪ
Apabila salah seorang diantara kamu masuk masjid, hendaklah ia shalt dua rakaat sebelum duduk. “(HR.Abu Dawud dari Abi Qatadah : 395)
Ø Tata cara dalam melakukan shalat tahiyatul masjid
a) Rukun shalat tahiyatul masjid sama dengan rukun shalat pada umumnya.
b) Syarat sah shalat tahiyatul masjid sama dengan shalat yang lain, ditambah satu lagi yakni dilakukan di masjid. Tidak sah jika dilakukan diluar masjid.
c) Shalat tahiyatul masjid dilaksanakan sebanyak dua rakaat.
d) Bacaan-bacaan shalat tahiyatul masjid sama dengan shalat yang lain, hanya niatnya saja yang berbeda. (Ibrahim, 2008: 126)
Ø Jumhur ulama berpendapat : hukum shalat dua rakaat sebelum masuk masjid adalah mandub(sunnah) dan tidak wajib.(Abdurrahman, 2006 : 430)

B. SHALAT SUNNAH GHAIRU MUAKAD
1. Pengertian shalat sunnah ghairu muakad
Shalat sunnah ghairu muakad adalah shalat sunnah yang tidak dikuatkan (kadang dikerjakan Rasulullah dan kadang tidak dikerjakannya)
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam shalat sunnah muakad:
a) Tidak didahului adzan dan iqomah
b) Dileksanakan secara munfarid (sendirian)
c) Dilaksanakan dengan dua rakaat salam
d) Tempat melaksanakan shalat sunnah sebaiknya berbeda dengan shalat wajib
e) Bacaantidak di nyaringkan
f) Memulai shalat di awali dengan niatnya masing-masing.
(Ibrahim, 2008: 128)

2. Macam-macam Shalat Sunnah Ghairu Muakad
a. Shalat sunnah rawatib
Ada beberapa shalat sunnah rawatib yang merupakan sunnah ghairu muakkad, yaitu:
MADZHAB
RAKAAT
Hanafi
4 rakaat sebelum dan sesudah dhuhur dan 4 rakaat sebelum ashar
Syafi’i

b. Shalat Dhuha
Shalat dhuha adalah shalat yang dikerjakan pada waktu dhuha, yakni ketika matahari terbit setinggi tombak sampai menjelang waktu dhuhur. Hukum mengerjakan shalat dhuha adalah sunnah. Shalat dhuha memiliki keutamaan yang besar bagi pelakunya sehingga rasulullah menganjurjkan para sahabat dan seluru kaum muslim untuk melaksanakannya.
Ø Bilangan rakaat shalat dhuha
Shalat dhuha diikerjakan sekurang-kurangnya dua rakaat dan sebanyak-banyaknya sebelas rakaat.
Ø Tata Cara Shalat Dhuha
Tata cara shalat dhuha sama dengan shalat lainnya. Hanya saja pada rakaat pertama dianjurkan membaca surat Al-fatihah kemudian surat Asy-Syams sedangkan rakaat surat Al-fatihah lalu surat ad-dhuha. Jika belum hafal boleh menggunakan surat apa saja. (Ibrahim, 2008:130)

Senin, 14 November 2016

sholat jama qashar

Ketentuan shalat jama’, qashar dan jama’ qashar


ketentuan shalat jama’, qashar dan  jama’ qashar

A.      Shalat Jama’
1.         Pengertian Shalat Jama’
Secara bahasa jama’ artinya mengumpulkan. Sedangkan menurut istilah, shalat jama’ ialah mengumpulkan dua sholat fardhu yang dilakukan secara berurutan dalam satu waktu. Menurut Sunnah Rasulullah SAW. Shalat yang boleh dijama’ ialah Shalat Dhuhur dengan Shalat Ashar, Shalat Maghrib dengan Shalat Isya’. shalat Subuh tidak boleh di jama’, sehingga Shalat Subuh harus dilaksanakan secara terpisah dari shalat yang lain.
   Dasar adanya Shalat Jama’ adalah dari hadits:
“Dari Anas r.a, ia berkata: Rasulullah saw, apabila berangkat dalam perjalanan sebelum matahari tergelincir, maka beliau akhirkan salat zuhur ke waktu asar, kemudian beliau turun (berhenti) untuk menjama’ keduanya (zuhur dan asar). Jika matahari telah tergelincir sebelum berangkat, maka beliau salat zuhur dahulu, kemudian baru beliau naik kendaraan”. (H.R. Bukhari dan Muslim)
2.         Macam-macam Shalat Jama’
Shalat jama’ terbagi dua, yaitu salat jama’ taqdim dan salat jama takhir.
a)             Shalat jama’ taqdim (dahulu)
                 Adalah mengumpulkan dua shalat fardhu yang pelaksanaannya dikerjakan             pada    waktu yang lebih awal. Seperti jika kita mau menjama’ shalat dhuhur   dan      ashar,   maka kita harus melaksanakannya pada waktu dhuhur. Hal ini             karena waktu pertama yang menjadi pegangan.
b)             Shalat jama’ takhir (kemudian)
Adalah mengumpulkan dua shalat fardhu yang dikerjakan pada waktu yang                       kedua. Seperti jika kita hendak menjama’ shalat dhuhur dan ashar, maka kamu                harus melaksanakannya pada waktu ashar. Hal ini karena waktu kedua yang                       menjadi pegangan.
3.    Syarat Shalat Jama’
a)             Sedang berpergian (muafir)
b)            Sedang sakit
c)             Karena ada hujan lebat
d)            Karena takut penganiayaan orang kafir
e)             Harus sesuai pasangan shalat (Shalat Dhuhur dengan Shalat Ashar Shalat
                        Maghrib dengan shalat Isya’)
B.    Shalat Qasar
1.     Pengertian Shalat Qasar
Qasar artinya meringkas atau memendekan. Shalat Qasar ialah melaksanakan (Shalat fardhu) dengan cara meringkas jumlah rakaatnya dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Dengan demikian, shalat yang dapat di Qasar ialah Shalat Dhuhur, Shalat Ashar dan isya’. shalat Maghrib tetap tiga rakaat dan Subuh tetap dua rakaat.
Dasar adanya Sahlat Qasar:
2.    Syarat Salat Qasar
a)     Perjalanan yang dilakukan minimal berjarak 3 farsakh atau 80,64 km.
b)     Perjalanan yang dilakukan bukan untuk maksiat.
c)     Salat yang diqasar harus salat yang bilangan rakaatnya empat.
d)    Berniat salat qasar ketika takbiratul ihram.
e)     Tidak bermakmum pada orang yang salat biasa
C.   Shalat Jama’ Qasar
                        Shalat Jama’ Qasar adalah mengerjakan dua shalat fardhu dalam satu waktu sekaligus meringkas rakaatnya yang empat menjadi dua saja. Misalnya Shalat dhuhur dua rakaat dan Shalat ashar dua rakaat dikerjakan dalam waktu Dhuhur atau dalam waktu Ashar.
Karena demikian maka da istilah dalam Ilmu Fiqih:
1.      Qasar Jama’ Takdim. Contohnya Shalat Asar dua rakaat dikerjakan dalam waktu Dhuhur bersama dengan Shalat dhuhur.
2.      Qasar Jama’ Takkir. Shalat Dhuhur dua rakaat dikerjakan didalam waktu Asar.
Untuk shalat yang boleh Qasar hanya ada tiga macam yaitu Shalat Dhuhur, Shalat Ashar, Shalat Isya’.






6.2.          Mempraktikkan salat jama’, qashar dan  jama’ qashar
A.      Praktik Shalat Jama’, Qasar, Jama’ Qasar
a.      Shalat Jama’
Mengerjakan Shalat Dhuhur 4 rakaat  dan Shalat ashar 4 rakaat dikerjakan pada waktu Dhuhur (Jama’ Takdim). sebaliknya mengerjakan shalat dhuhur 4 rakaat  dan Shalat Ashar 4 rakaat dikerjakan pada waktu Ashar (Jama’ Takkir). untuk Shalat Maghrib dengan Shalat Isya’ juga dikerjakan ada waktu maghrib 3 rakaat dan Isya’ 4 rakaat dikerjakan dalam satu waktu sekaligus.
b.     Shalat Qasar
Untuk shalat qasar ini hanya yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat saja, yaitu  Shalat Dhuhur 2 rakaat dikerjakan pada waktu Dhuhur. Shalat Ashar 2 rakaat duikerjakan  pada waktu  Ashar, dan Shalat Isya’ 2 rakaat dikrjakan pada waktunya sendiri pula. Pengertian singkatnya Shalat fardhu di kerjakan diwaktu masing-masing dengan meringkas rakaatnya.
c.     Shalat Jama’ Qasar
Shalat Jama’ qasar adalah mengerjakan shalat wajib dengan meringkas rakaatnya yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat. Ketika mengerjakannya adalah dua sholat wajib dikerjakan dalam satu waktu saja. Misalnya Shalat Dhuhur dan Shalat Ashar dikerjakan dalam waktu Dhuhur, hal seperti ini dalam ilmu fiqih dinamakan “Qasar Jama’ Takdim”. Tetapi apabila Shalat Dhuhur dan Shalat Ashar disebut “Qasar Jama’ Takkir”.












6.3.          Menjelaskan ketentuan shalat dalam keadaan darurat ketika sedang sakit dan di kendaraan.
A.      Shalat Dalam Keadaan Darurat
Shalat dalam keadaan darurat adalah shalat yang dilaksanakan ketika sakit atau dalam keadaan yang sulit. Contohnya seperti shalat di dalam kendaraan, pesawat terbang, kereta api, dan sebagainya. Dalam keadaan seperti ini seorang muslim wajib melaksanakan shalat. Dengan catatan masih sehat akal dan ingatannya.
1.        Cara bersuci orang yang sakit:
Orang yang akan memnunaikan ibadah Shalat hendaklah bersuci dulu baik dari Hadats maupun Najis. Jika tidak bisa melaksanakan sendiri, bisa minta bantuan orang lain. Jika tidak mungkin boleh bersuci sebisanya.
a.              Cara berwudhu
Jika masih mampu menggunakan air, maka wudhu bisa dilakukan diatas     tempat tidur    atau bisa dengan bantuan orang lain.
b.              Bila tidak sanggup dengan air atau menurut pertimbangan dokter tidak boleh         menggunakan air maka diganti dengan tayamum sebagai pengganti wudhu. Bisa     dengan minta bantuan kepada oran lain atau ditayamumkan.
















6.4.          Mempraktikkan shalat dalam keadaan darurat ketika sedang sakit dan di kendaraan.
1.        Tata Cara Salat dalam Keadaan Sakit
a.    Jika tidak mampu berdiri hendaklah shalat sambil duduk.
b.    Jika tidak mampu sujud dalam posisi duduk, hendaklah menggunakan isyarat                     dengan menganggukan kepalanya.
c.    Jika tidak mampu duduk hendaklah shalat dengan membaringkan tubuhnya ke                   sebelah kanan menghadap kiblat.
d.   Jika tidak mampu berbaring hendaklah shalat dengan posisi terlentang  dan                        kedua kakinya dihadapkan ke kiblat.
2.    Praktik Shalat dalam Kendaraan
Berikut ini adalah tata cara salat di dalam kendaraan:
a.    Duduklah dengan tegak kemudian takbiratul ihram.
b.    Kemudian rukulah, caranya dengan sedikit membungkukkan badan.
c.    Kemudian iktidal, jangan lupa untuk tuma’ninah.
d.   Kemudian sujud, caranya dengan lebih membungkukkan badan.
e.    Lakukan gerakan salat sesuai dengan rakaatnya. Kemudian lakukan salam ke                      kanan dan ke kiri.

f.     Gerakan terakhir mengusap wajah.

vido tatacara sujud sahwi

Sholat Lima Waktu dan Sujud Sahwi

Materi FIQIH Kelas 7 (Sholat Lima Waktu dan Sujud Sahwi)
Sholat Lima Waktu dan Sujud Sahwi

A.  Tata cara salat lima waktu.
            Asal makna Shalat menurut bahasa Arab berarti do’a, kemudian yang dimaksut di sini: yaitu ibadat yang tersusun dari beberapa perkataan dan beberapa perbuatan yang dimulai dengan takbir disudahi dengan salam, menurrut beberapa syarat tertetu.
Firman Allah SWT : واقىم الصلوة ان الصلوة تنهى عن الفحشاء والمنكر
Artinya: ....Kerjakanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan yang jahat (keji) dan yang munkar... (Al-Ankabut 45)
            Shalat yang diwajibkan atas tiap-tiap orang yang dewasa dan berakal, ialah lima waktu sehari semalam. Mulai turun perintah wajib shalat itu, ialah pada malam isra’ mi’raj setahun sebelum tahun hijriyah.
Kemudian dalam hal ini akan dibahas tentang tata cara shalat lima waktu, yaitu:
1.    Niat, arti niat ini ada dua:
            Asal ma’na niat ” menyengaja ”, sesuatu perbuatan dengan adanya sengaja ini, perbuatan dinamakan ikhtijari ( kemauan sendiri bukan di paksa).
Niat pada syara’ ( yang menjadi rukun shalat dan ibadat yang lain-lain) yaitu: menyengaja suatu perbuatan karena mengikuti perintah Allah agar supaya diridhainya, inilah yang dinamakan ihlas. Maka orang yang shalat hedaklah ia sengaja mengarjakannya.
Firman Allah SWT :             وما امروالا ليعبد واالله مخلصين له الدين
Artinya : “ Dan meraka tidak disuruh melainkan supaya menyembah Allah serta dengan ikhlas beragama kepadaNya, (beribadah menurut perintahNya) ” Al-Baiyinah 5
2.    Berdiri bagi orang yang mampu, adapun pengecualian bagi orang yang tidak mampu berdiri ketika sholat boleh dengan duduk dan kalau tidak mampu ia boleh berbaring, dan kalau tidak mampu berbaring boleh dengan menelentang. Kalau juga tidak mampu sholat semampunya seperti dengan isyarat sekalipun. Yang terpenting sholat tidak boleh ditinggalkan selama imam masih ada.
3.    Takbiratul-Ihram, (membaca ..Allahu Akbar..)
 Cara dari takbiratul-ihram ialah, mengangkat kedua tangan diatas pundak kemudian kedua telapak tangan membuka, lalu letakkan kedua tangan diatas perut dan dibawah dada, dilanjutkan tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri. Disambung membaca الله اكبر  dan do’a iftitah:
الله اكبر كبرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا اني وجهت وجهي للذي فطرا لسموات والارض حنيفا مسلما وما انا من المشركين انصلاتي ونسكي ومحياي ومما تي لله رب العلمين لاشريك له وبذلك امرت وانا منالمسلمين
Sabda Rasulullah SAW: قا رسول الله ص م مفتاح الصلاة الوضوء وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم
Artinya: “ Kunci sholat itu wudhu, permulaannya takbir dan penghabisannya salam”. (Riwayat Abu Daud dan Tirmidzi).
4.    Membaca Surat Al-fatihah, kemudian disusul dengan bacaan surah-surah pendek.
5.    Ruku’ serta tuma’ninah (berhenti).
6.    Setelah membaca surah Al-fatihah dan surah-surah pendek dilanjutkan pada ruku’ yaitu, membungkukkan badan, kedua tangan memegang kedua lutut, antara kepala dan punggung harus sama (rata), setelah dirasa cukup kemudian membaca:
سبحان ربي العظيم وبحمده  3 kali
7.    I’tidal serta tuma’ninah (berhenti).
Kedua tangan diangkat diatas pundak, kemudian dilepaskan jangan sampai kedua tangan bergerak-gerak. Kemudian membaca:
سمع الله لمن حمده ربنا لك الحمد مل ء السموات وملءالارض وملء ماشؤت من شيء بعد
8.    Sujud dua kali serta tuma’ninah (berhenti).
Sujud dilakukan dengan cara kedua tangan diturunkan dan tidak perlu diangkat ke atas, kemudian lutut lebih dulu menyentuh pada alas (sajadah), kedua  kedua tangan menyentuh pada alas (sajadah), antara dahi dan hidung menyentuh pada alas, kaki di angkat seperti menjinjit, kedua tangan untuk laki-laki agak di buka, namun bagi perempuan tidak perlu dibuka. Dilanjutkan membaca:
سبحا ن ربي الاعلى وبحمده    kali  3
9.    Duduk di antara dua sujud dan tuma’ninah (berhenti).
Duduk iftirasy di antara dua sujud dan tasyahud awal, duduk tawaruk pada tasyahud ahir, meletakkan tangan kanan di atas paha kanan terkepal dengan jari telunjuk menunjuk, meletakkan tangan kiri di atas paha kiri
Kemudian membaca:
رب اغفرلي وارحمني واجبرني وارفعني وارزقني واهد ني وعا فني واعف عني
10.     Duduk ahir, untuk tasyahud ahir dan shalawat atas Nabi SAW dan atas keluarga beliau.
11.     Membaca tasyahud ahir.
12.     Salam (yang pertama kea rah kanan dan disusul kea rah kiri).
13.     Tertib (meletakkan tiap-tiap rukun pada tempatnya menurut susunannya yang tersebut di atas).
Sabda Rasulullah: قال رسلول الله صلى الله عليه وسلم : صلوا كما رايتموني اصلى
 ( Sholatlah kamu sebagaimana kamu lihat saya bersholat )…… Riwayat Bukhari

Syarat-syarat wajib sholat lima waktu:
1.         Islam, adapun orang yang tidak islam tidak wajib baginya menunaikan sholat.
2.         Suci, baik dari hadast kecil maupun besar.
3.         Berakal, orang yang tidak berakal tidak wajib sholat.
4.         Baligh, (sampai umur dewasa).
5.         Telah samapai da’wah (perintah Rasulullah SAW, kapadanya), orang yang belum menerima perintah tidak di tuntut dengan hukum.
6.         Melihat atau mendengar, melihat atau mendengar merupakan syarat wajib sholat walau pada suatu waktu untuk kesempatan mempelajari hukum-hukum syara’ orang yang buta dan tuli sejak lahir tidak dituntut dengan hukum, karena tidak ada jalan baginya untuk belajar hukum-hukum syara’.
7.         Terjaga, (tidak tidur). Maka orag yang tidur tidak wajib sholatnya begitu pula dengan orang yang lupa.

            Syarat-syarat sah sholat lima waktu:
a)    Suci dari hadast kecil dan bekecil dan besar.
b)   Suci badan, pakaian dan tempat dari pada najis.
c)    Menutup aurat, Aurat ditutup dengan suatu yang menghalangi kelihatan warna kulit, aurat laki-laki antara pusar dengan lutut sedangkan pada perempuan seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan.
d)   Mengetahui adanya waktu sholat. Diantara syarat sah sholat mengetahui waktu sholat sudah ada.
e)    Menghadap kiblat (ka’bah), selama melaksanakan sholat harus menghadap kiblat.

Hal-hal yang membatalkan sholat.
Ø  Meninggalkan salah satu rukun atau memutuskan rukun.
Ø  Meninggalkan salah satu syarat.
Ø  Dengan sengaja berkata-kata.
Ø  Banyak bergerak.
Ø  Makan atau minum.

     Sunah-sunah dalam sholat:
A.  Ada dua macam sunah dalam sholat:
a)    Sunah ab’ad yaitu sunnah yang apabila ditinggalkan karena lupa disunah kan diganti dengan sujud sahwi dilakukan pada ahir sholat sebelum salam.
b)   Sunah hai’at yaitu sunnah yang apabila ditinggalkan tidak perlu disunahkan diganti dengan sujud sahwi.
B.  Bacaan-bacaan salat lima waktu.
            Ibadah sholat merupakan ibadah mahdhah (ibadah yang tidak bisa diwakilkan), oleh karena itu sholat harus dilaksakan sesuai dengan apa yang telah dicontohkan Nabi SAW.
Adapun bacaan-bacaan dalam sholat yaitu:
a.      Niat. (niat untuk melaksakan sholat), misalnya niat sholat magrib:
اصلى فرض المغرب ثلاث ركعات مستقبل القبلة ماءموما اماما لله تعالى            
b.      Takbir, yaitu mengangkat kedua tangan sambil mengucapkan ”الله اكبر
c.      Do’a iftitah.
            الله اكبر كبرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا اني وجهت وجهي للذي فطرا لسموات والارض حنيفا مسلما وما انا من المشركين انصلاتي ونسكي ومحياي ومما تي لله رب العلمين لاشريك له وبذلك امرت وانا منالمسلمين
d.     Membaca surah Al-fatihah.
e.      Membaca surah-surah Al-qur’an (contoh Al-Ihlas).
f.       Do’a ketika ruku’.
سبحان ربي العظيم وبحمده                         3 kali
g.      Do’a i’tidal
سمع الله لمن حمده ربنا لك الحمد مل ء السموات وملءالارض وملء ماشؤت من شيء بعد
h.      Do’a sujud
سبحا ن ربي الا على وبحمده                  3 kali
i.        do’a di antara dua sujud.
رب اغفرلى وارحمني واجبرني وارفعني وارزقني واهدني وعافني واعف عني   
j.        Bacaan tasyahud awal.
التحيا ت المبا ركا ت الصلوا ت  الطياة لله السلا م عليك ايها النبي ورحمة الله وبراكاته السلام علينا وعلى عبا دالله الصلحين اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدارسول الله اللهم صلى على سيدنا محمد
k.      Do’a tasyahud ahir.
وعلى ال سيد نا محمد كما صليت على سيد نا ابرا هيم وعلى ال سيد نا ابرا هيم وبارك على سيد نا محمدلاوعلى ال سيد نا محمد كما با ركت على سيد نا ابراهيم وعلى ال سيد نا ابرا هيم في المين حميد مجيد
l.        Mengucapkan salam. السلا م عليكم ورحمة الله

C. Ketentuan waktu salat lima waktu.
            Firman Allah SWT :
قا ل الله تعا ل ان الصلوة كا نت على المؤمنين كتا با موقوتا            
            ”Sesungguhnya sholat itu diwajibkan atas orang yang beriman, menurut waktu tertentu. ” An-Nisa’ 103.
            Sholat fardhu wajib atas tiap-tiap orang mukallaf (baligh dan berakal), lima kali sehari semalam.
1.    Sholat Zuhur, awal waktunya setelah tergelinjirnya matahari, sedangkan ahirnya bila bayang-bayang suatu benda telah menjadi sama dengan bayang-bayang benda itu sendiri.
2.    Sholat Asar, awal waktunya bila bayang-bayang setiap benda telah menjadi sama dengan bayang-bayang benda itu sendiri dan lebih sedikit, sedangkan ahirnya sampai terbenam matahari.
3.    Sholat Magrib, awal waktunya sejak terbenam matahari sedangkan ahirnya terbenam mega merah (sisa cahaya matahari pada waktu senja).
4.    Sholat Isya’, awal waktunya sejak terbenam syafaq (mega merah), sedangkan ahirnya terbit fajar shadiq (permulaan subuh).
5.    Sholat Subuh, awal waktunya sejak terbit fajar shadiq sedangkan ahirnya terbit matahri.

Awan itu ada tiga macam, merah, kuning, dan putih. Yang merah waktu magrib, sedangkan kuning dan putih waktu isya’. Ini merupakan penjelasan tentang waktu sahnya untuk melakukan sholat lima waktu. Disamping itu ada waktu yang diharamkan untuk melakukan sholat lima waktu yaitu:
 Ketika terbit matahari hingga sepenggalah yaitu, lebih kurang enam puluh menit sesudah matahari terbit.
Ketika matahari istiwa (berada di tengah-tengah langit, waktunya hanya sebentar dan tidak lama) selain hari jum’at hingga tergelincir.
Ketika matahari kekuning-kuningan hingga terbenam.
 Sesudah sholat subuh hingga matahari terbit (dan naik sepenggalah).
Sesudah sholat ashar hingga terbenam matahari.

Penjelasan tersebut diperkuat dengan hadist nabi:
لاصلاة بعد الصبح حتى تطلع الشمس ولا صلاة بعد العصىر حتى تغيب الشمس ( متفق عليه )
            “ Tidak ada sholat sesudah sholat Subuh hingga matahari naik, tidak pula sesudah sholat Asar hingga terbenam matahari ”. (Muttafaq’alaih).
            Kata sahabat Utbah bin Amir “Rasulullah SAW. Melarang kita sholat pada tiga waktu dan mengubur mayat padanya, yaitu: ketika matahari tampak terbit hingga naik, ketika batas tengah hari (istiwa) hingga tergelincir, dan ketika matahari akan terbenam hingga terbenam”. (Riwayat Muslim).

D.    Ketentuan sujud sahwi.
            Sujud sahwi merupakan salah satu sujud yang dilakukan ketika meninggalkan atau lupa melakukan syarat dan rukun sholat. Untuk sujud sahwi di lakukan ketika lupa melaksanakan tahiyat awal, membaca do’a kunut. Cara untuk melaksanakannya setelah selesai membaca tahiyat ahir sebelum salam lakukan sujud dua kali kemudian baru salam. Adapun bacaan dari sujud sahwi adalah sebagai berikut: سبحان من لاينام ولا يسهو .

Sebab-sebab sujud sahwi yaitu:
1.     ketinggalan tahiyat awal atau ketinggalan kunut menurut pendapat-pendapat yang telah terdahulu.
2.    kelebihan raka’at atau ruku’ atau sujud sebab lupa.
3.    karena ragu (Syak) bilangan raka’at yang telah dikerjakan. Umpama ia ragu apakah raka’at yang sudah dikerjakan tiga atau empat, maka hendaklah ia jadikan bilangan yang yakin yaitu, disini tiga raka’at maka ia tambah satu raka’at lagi serta ia sujud sahwi sebelum ia salam.
4.    apabila kurang raka’at sholat karena lupa.
            Dari beberapa penjelasan diatas para ulama’ bersepakat bahwa sujud sahwi dilakukan sebelum salam bukan sesudah salam. Hukum dari sujud sahwi adalah sunah yang penting untuk imam dan orang yang sholat sendiri. Adapun makmum ia wajib mengikuti imamnya, berarti kalau imam sujud ia wajib pula sujud mengikuti imamnya dan apabila imam tidak sujud ia tidak boleh sujud sendiri.

E. Praktik salat lima waktu dan sujud sahwi.
1.    Jika seseorang lupa bilangan rakaat yang telah dikerjakan hendaknya ia mengambil yang diyakini yaitu yang sedikit. Kemudian sebelum salam disunnahkan sujud sahwi.
2.    Jika imam mengerjakan sujud sahwi, maka makmum wajib mengikutinya meskipun tidak tahu sebab dan belum selesai sholatnya (karena masbuq).
3.    Jika terjadi beberapa kesalahan dalam sholat yang menyebabkan sunatnya sujud sahwi, maka sujud 

video dzikir dan doa